Friday, 21 February 2014

resepsi Cerpen sri sumarah

Cerpen Sri Sumarah karya Umar Khayam merupakan Cerpen yang yang pertamakali saya baca dengan alur cerita yang cukup panjang. Terus terang saya lumayan heran, antara percaya dan tidak ternyata buku yang setebal itu juga disebut cerpen. Terlepas dari itu, buku cerita pendek ini, saya lebih suka menyebutnya Novelet Alias Novel Pendek. Lagi-lagi menceritakan tokoh seorang perempuan lokal yaitu sri sumarah, mau tidak mau, wanita selalu menjadi bahan pembicaraan yang menarik untuk dibahas.
                Dari sekian banyak karya yang meneriakan Prinsip-prinsip Feminism misal : trilogi ronggeng dukuh paruk (karya: Ahmad tohari), Sri Sumarah juga menjadi salah satu karya cerpen yang fenomenal dan kontroversial dikalangan pembaca, maupun kritikus.  Cerita ini berkisah tentang seorang perempuan bernama Sri Sumarah sebagai tokoh central. Sri sumarah hidup dalam dua ruang politik sebagai latar sosial cerita, yang sangat mempengaruhi perjalanan hidupnya.
                ruang tersebut merupakan dunia politik masa Orde Lama ruang berikutnya ialah pada masa Orde Baru. satu lagi; latar politik pemerintahan pada masa itu, juga menjadi pilihan penulis sebagai latar emosional dan peristiwa, jika kita pernah membaca trilogi dukuh paruk (ahmad tohari) terkesan bahwa salah satu dari kedua novel tersebut mempengaruhi salah satu penulis itu pula baik tokoh yang dihadirkan ialah seorang perempuan lokal dengan segala kepolosan, juga latar peristiwanya yang bagaimana sebuah peralihan kekuasaan yang masa itu sangat kacau, ikut mempengaruhi perjalanan hidup kedua tokoh central tersebut, dalam hal itu ialah Sri Sumarah pada Novelet “Sri Sumarah” (Umar Khayam), dan Srintil pada novel Trilogi : “Ronggeng Dukuh Paruk” (Ahmad Tohari). namun pertanyaan yang muncul ialah, Benarkah ada kaitan Intertekstual antara kedua karya tersebut? Jika ya, siapa yang mempengaruhi dan siapa yang terpengaruh? Jika tidak, sudah barang tentu latar tersebut menjadi latar yang populer pada masa itu, seolah kejadian yang paling berkesan semasa hidup penulis. Atau jangan-jangan sampai saat ini pun sebuah karya fiksi dll akan menjadi fenomenal jika kita menghadirkan menciptakan karya fiksi dengan gagasan yang mirip seperti itu. Terlepas dari pertanyaan yang tidak penting itu, hanya saja saya cantumkan pertanyaan itu, tidak lain ialah mungkin saja ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut atau menambahkannya khusus untuk saya. tentu saya tidak akan menyentuh lebih jauh tentang karya Ahmad tohari, melainkan buku novelet Sri sumarah.
                Cerita ini dimulai pada masa mudanya Sri. Sri adalah seorang pelajar tamatan SKP dari kota J. Dia anak yatim piatu yang dibesarkan embahnya dalam kekentalan suasana budaya Jawa dengan penuh kasih sayang. Peristiwa cerita ini diantarkan pada tahun 60-an ketika sedang terjadi pergolakan politik.
                Sri dinikahkan oleh embahnya kepada seorang guru (priyayi) bernama Sumarto yang kemudian sesuai dengan adat Jawa berganti nama menjadi Marto Kusumo, dan Sri pun mendapat nama baru yaitu Bu Marto. Sebelum menikah Sri selalu dijejali ajaran bagaimana cara seorang perempuan jawa hidup dengan kodratnya, yaitu menjadi seorang wanita jawa yang baik, menjunjung tinggi prinsip-prinsip kesetiaan,kepatuhan, kerelaan dll ialah dasar untuk menjadi wanita sempurna.
                Sri di ajak mbahnya dunia wayang yang sudah menjadi Ikon bagi orang-orang Jawa. Dasar pemikiran Mbah adalah sebuah tradisi yang memegang kuat falsafah Jawa, dia juga seorang yang menguasai tanah sebagai sumber penghidupannya. Prinsipnya adalah bahwa hidup tidak lain haruslah berpegang pada pedoman falsafah Jawa. Serta yang utama yaitu membahagiakan Sri cucunya.

“Nduk, memang sudah aku niati untuk menyekolahkan kau sampai tinggi. Itu sudah janjiku kepada orangtuamu yang—oh, Allah, kok ngenes betul lelakonmu—sudah meninggal. Aku, embahmu, nDuk, belum akan merasa selesai sebelum aku melihat engkau selesai sekolah di kota, kawin, dan sebelum aku bisa memangku cucuku.” (185)
                Kutipan dialog di atas memperlihatkan, bahwa embah ingin sekali membahagiakan Sri. Telah menjadi tekad embah bahwa bagaimanapun sri harus bisa Ia bahagiakan.sebagai salah satu cara untuk menggugurkan hutangnya, Embah mengandaikan dirinya sebagai Kunti (ibu para Pandawa) yang rela berkorban demi kebahagiaan anak-anaknya. Ini menunjukkan bahwa falsafah Jawa sangat kuat dalam diri Embah.
                membahagiakan cucunya dan hidup dalam falsafah Jawa, serta menuntun Sri untuk ikut memegang falsafah jawa pula. embah memberi ajaran sekaligus mengharuskan memegang prinsip-prinsip kesetiaan, prinsip-prinsip berkeluarga. Mulai dari bagaimana menghadapi dan memanjakan suami di ranjang sampai ke cara memuaskannya dalam urusan dapur. Seorang istri harus tahu apa yang di inginkan suami, seorang istri harus tahu kekuatan dan kelemahan suaminya sekaligus mengagguminya, pada gilirannya hal itu dipergunakan untuk memuaskan suami. Sebagai seorang perempuan Jawa harus siap dengan dua hal, yaitu berita kematian suaminya dan berita perkawinan suami. Hal ini seperti yang dirasakan Sembadra, ketika bersuamikan Arjuna yang ksatria dan tukang kawin.
                Alhasil, sri memegang prinsip-prinsip yang ia dapatkan dari mbahnya. Setelah menikah dengan Sumarto, Sri naik ke dalam golongan priyayi. Meski demikian, dia dan Sumarto masih tetap rajin mengurus sawah.
                Karakter yang paling menonjol pada diri Sri adalah yang menandakan dirinya seseorang yang sangat patuh terhadap tradisi dan menjungjung tinggi nilai-nilai budaya Jawa. Dalam hal ini pengaruh wejangan dari mbahnya sangat kuat tertanam di dalam dirinya. Dia selalu menganalogikan dirinya sebagai Sembadra yang akan selalu memberi kepuasan kepada suaminya.
                kesadaran terhadap tradisi dalam diri Sri adalah membahagiakan suaminya setinggi-tingginya. Hal ini terlihat dari sikapnya ketika memperlakukan Sumarto suaminya, sehingga suaminya itu kerasan tinggal di rumah karena mendapatkan kenikmatan yang penuh dari Sri. Bahkan ketika Sumarto ditawari untuk mengawini seorang gadis cantik anak Pak Carik, Sumarto menolaknya dengan alasan istri satu pun sudah cukup. Seperti terlihat dari kutipan di bawah.
“Husy, husy, husy. Jangan omong gitu. Kalau ada setan lewat, susah kita nanti. Dan lagi, kau kurang apa? Punya satu saja dimakan enggak habis-habis kok, mau dikasih satu lagi.” (192)
                Karakter Sumarto ialah seorang yang tidak berlebihan, pandai bersyukur meski mempunyai kesempatan untuk menikah lagi, tetapi menolak kesempatan itu. Sumarto adalah seorang priyayi, tapi kita juga bisa melihat petani pada dirinya. Sumarto menyadari bahwa sebagai priyayi/guru adalah mengajar dan menghasilkan uang untuk kebahagiaan rumah tangganya. Pernikahan Sri hanya berumur 12 tahun, suaminya meninggal akibat sakit eltor. Ketika itu Sri harus hidup dengan Tun anak tunggalnya dari perkawinan dengan Suaminya. Pusat perhatiannya sekarang terfokus kepada bagaimana membesarkan Tun agar menjadi anak yang dapat dibanggakan sesuai dengan kata-kata terakhir suaminya menjelang meninggal.
                Ada pergeseran peran dalam diri Sri sepeninggalnya Sumarto. Dia tidak lagi mengandaikan dirinya sebagai Sembadra tetapi sebagai Kunti, ibu pandawa yang siap berkorban untuk kebahagiaan anaknya. statusnyapun berubah, Sri menjadi bekas priyayi, dia juga mempunyai tambahan peran yaitu sebagai Buruh. Peran sebagai buruh didapatkannya karena dirinya merasa tidak mampu mencukupi biaya hidup keluarganya jika mengandalkan gaji pensiun suaminya dan penghasilan sawahnya. Dia memilih untuk jadi penjahit dan penjual pisang goreng untuk menutupi kekurangan kebutuhan ekonominya. Nilai kesadaran terhadap tradisinya tidak lagi untuk kebahagiaan suaminya tetapi ditujukan untuk kebahagiaan anaknya, untuk menyekolahkannya setinggi-tingginya seperti yang pernah dilakukan mbahnya.
                Alur/plot yang tuangkan sangat kompleks, begitu banyak kejadian-kejadian yang menuntut Sri sumarah untuk sabar. konflik yang bertubi-tubi dihadapi sri yang dihadirkan Umar Khayam melahirkan keuntungan dalam penonjolan yang sangat kuat terhadap karakter Sri yang tabah dan sabar, Hanya saja menurut saya, konflik maupun situasi yang mengantarkan sri pada Peran yang baru terkesan dipaksakan, seolah sri mempunyai kepribadian ganda. Menurut saya perubahan peran sri pada setiap babaknya justru mengacak-acak karakter Sri. Seolah Umar Khayam seperti bingung mau dibawa kemana lagi tokoh Sri Sumarah ini?, dan kira-kira mau jadi apa lagi?.
                Amanat yang kira-kira bisa kita petik ialah:
-bahwa hidup dalam keteratuan tertentu memang seharusnya harus kita taati sesuai pada porsi dan tempatnya.
-Umar Khayam seolah ingin memberitahukan bahwa gejolak politik pada masa itu, terjadi atas kesalahan tentang kebijakan pada waktu itu sendiri, bahwa seolah yamg menjadi korban itu semua terjadi atas dasar kecelakaan/malapetaka yang tidak disengaja, hematnya, mereka yang mati hanya sebagai rakyat biasa yang telah menjadi tumbal meski mereka tidak pernah merasa terlibat pada politik tersebut.
-sesuatu yang tersembunyi pada dialog sesudah maupun sebelumnya:
“Husy, husy, husy. Jangan omong gitu. Kalau ada setan lewat, susah kita nanti. Dan lagi, kau kurang apa? Punya satu saja dimakan enggak habis-habis kok, mau dikasih satu lagi.” (192)
                Dapat saya tangkap bahwa sumarto tidak ingin menikah lagi karena sri sudah cukup dan pandai memuaskan suaminya dan patuh terhadap suaminya. seorang suami tidak serta merta akan menduakan istri jika seorang istri sudah menjadi wanita yang tidak ada duanya, tidak ada alasan untuk seorang suami untuk menikah lagi jika istri yang sudah dimiliki sudah cukup sempurna. Maka mungkin Umar ingin mempengaruhi kaum perempuan untuk intropeksi terhadap dirinya sendiri jika ia menjadi korban perselingkuhan /poligami. Tertangkap bahwa penulis laki-laki seperti Umar Khayam berat sebelah, sehingga menganggap wanita adalah objek fantastis yang menarik

1.        Mendeskripsikan Resepsi Pembaca pada Cerpen Maukah Kau Menghapus Bekas Bibibirnya, di Bibirku dengan Bibirmu? karyaHamsad Rangkuti
“Maukah Kau Menghapus Bekas Bibibirnya, di Bibirku dengan Bibirmu?” adalah judul panjang untuk sebuah cerita pendek. Pertanyaan mendasar yang harus diutamakan sebelum berbicara panjang lebar tentang instrinsik pada sebuah karya cerpen yang satu ini. Pembaca menangkap problem gender di dalam  cerpen ini adalah apakah cerpen Hamsad Rangkuti ini memuat masalah gender dan berhubungan dengan feminisme? Untuk menjawab pertanyaan pokok ini, salah satu cara yang ditempuh adalah dengan cara menafsirkan  teks itu sebagai sebuah tanda yang memberi amanat dan makna. Ini berarti memerlukan kacamata khusus dalam hal ini ialah harus terlebih dahulu melihat pada sudut pandang kajian semiotik agar mampu menanggapi dan mendeskripsikan unsur-unsur intrinsiknya.
                Problem gender dan feminisme hampir ditemukan pada keseluruhan cerpen ini. Dari mulai Judul cerpen dan bagian awal cerpen sudah menggambarkan posisi tokoh perempuan sebagai tokoh yang tidak berdaya. Judul Cerpen yang diambil dari penggalan dialog tokoh perempuan dengan tokoh lain laki-laki yaitu Hamsad Rangkuti sendiri. Kutipan dialognya sebagai berikut: “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya Di Bibirku Dengan Bibirmu?”
                Judul cerpen Hamsad Rangkuti ini Sebagai penggambaran tokoh perempuan berkitan pada situasi yang telah menimpa perempuan tersebut. Dialog Pertanyaan yang dijadikan judul ini menggambarkan bahwa ketergantungan kaum perempuan terhadap kaum laki-laki ketika ia berharap untuk menghapus bekas bibir orang lain yang dilakukan oleh orang yang dicintainya. Berkaitan Pernyataan tokoh perempuan yang mengungkapkan ketidakbisaan pengalaman pahit. dapat dimaknai sebagai cara Hamsad Rangkuti menampilkan kelemahan tokoh perempuan. Deskripsi dalam penggalan dialog di atas telah memberikan jawaban pada tokoh perempuan yang tengah mengalami putus cinta, penggambaran perempuan adalah makhluk yang lemah, selalu berputus asa, hingga pada ujungnya memilih jalan kematian sebagai pembebasan.
keputusan perempuan muda yang digambarkan pada awal cerpen ini sesungguhnya dipicu oleh kondisi awal dirinya.  yang dapat diduga membawa disharmoni dengan tokoh ‘anonim’. selanjutnya perempuan itu dijadikan objek tulisan oleh Hamsad Rangkuti yang bertindak seolah sedang menjadi wartawan yang obyektif, tidak terintervensi terhadap situasi apapun. Hamsad Rangkuti mengabadikan momen langka itu. Meski terkesan tidak terintervensi situasi seperti yang ada pada prinsip-prinsip jurnalistik. Namun, sekurang-kurangnya paling tidak wartawan tersebut telah memperlambat niat tokoh perempuan menjalankan aksi bunuh diri. Perempuan itu digambarkan sebagai tokoh yang tidak mau memberi jawaban atas pertanyaan sang laki-laki ia cenderung diam. Apakah ini mau menegaskan bahwa perempuan yang bermasalah sulit diajak berkomunikasi akibat kesedihanya? Tendensi Hamsad menjadikan tokoh perempuan sebagai objek terbukti dari pemintaannya agar si perempuan berkisah. Kisah itu akan dijadikan bahan cerita untuk si penulis seperti terlihat pada kutipan berikut:
Dengan dalih agar bisa memotretnya dalam posisi sempurna, kudekati dia sambil membawa kamera. Aku berhasil memperpendek jarak dengannya, sehingga tegur sapa di antara kami bisa terdengar.
"Tolong ceritakan sebab apa kau ingin bunuh diri?" kataku memancing perhatiannya.
Dia tak beralih dari menatap ke jauhan laut. Di sana ada sebuah pulau. Mungkin impiannya yang telah retak menjadi pecah dan sudah tak bisa lagi untuk direkat.
"Tolong ceritakan penyebab segalanya. Biar ada bahan untuk kutulis."

                Penokohan terhadap tokoh perempuan yang menjadi objek Hamsad Rangkuti ini semakin mengaburkan tokoh perempuan sebagai tokoh yang putus asa dan memiliki ketergantungan tinggi pada tokoh anonim yang menjadi sumber permasalahanya. Penulis Hamsad Rangkuti menggambarkan bahwa segala sesuatu yang dikenakan tokoh perempuan itu berasal dari orang yang “dibencinya”. Kebencian tokoh perempuan terhadap tokoh anonim itu digambarakan sedemikian dramatisnya. Penulis cerpen tampaknya ingin mengambil jarak dengan berlaku sebagai pengamat yang mendengarkan  dan mencatat apa yang dikatakan tokoh perempuan ketika hendak membuang segala yang  telah diterimanya dari tokoh anonim. Pengarang bertindak sebagai wartawan yang mengamati tingkah laku tokoh perempuan dengan merekam semua perkataannya berkaitan dengan apa yang diterima dan yang akan dibuangnya.
Tiba-tiba dia melepas sepatunya, menjulurkannya ke laut.
"Ini dari dia," katanya dan melepas sepatu itu. Sepatu itu jatuh mendekati ombak, kuabadikan dalam kamera.
Kemudian dia meraba jari tangan kirinya. Di sana ada sebentuk cincin. Sinar matahari memantul mengantar kilaunya. Mata berliannya membiaskan sinar tajam. Dikeluarkan cincin itu dari jari manisnya. Diulurkannya melampaui terali. Ombak yang liar menampar dinding kapal. Tangan yang menjulurkan cincin itu sangat mencemaskan.
"Ini dari dia," katanya, dan melepas cincin itu. "Semua yang ada padaku, yang berasal darinya, akan kubuang ke laut. Sengaja hari ini kupakai semua yang pernah dia berikan kepadaku untuk kubuka dan kubuang satu persatu ke laut. Tak satu pun benda-benda itu yang kuizinkan melekat di tubuhku saat aku telah menjadi mayat di dasar laut. Biarkan aku tanpa bekas sedikit pun darinya. Inilah saat yang tepat mem­buang segalanya ke laut, dari atas kapal yang pernah membuat sejarah pertemuan kami."
Wanita muda itu mulai melepas kancing-kancing bajunya, melepaskan pakaiannya, dan membuangnya satu persatu ke laut. Upacara pelepasan benda yang melekat di tubuhnya dia akhiri dengan melepas penutup bagian akhir tubuhnya. Membuangnya ke laut.
"Apa pun yang berasal darinya, tidak boleh ada yang melekat pada jasadku; saat aku sudah menjadi mayat, di dasar laut. Biarkan laut membungkus jasadku seperti kain pembungkus mayat. Biarkan asin airnya menggarami tubuhku tanpa sehelai benang penyekat."
Klimaks penggambaran tentang lemahnya tokoh perempuan tampak dalam bagian yang menggambarkan adanya pergeseran sikap tokoh perempuan yang sebelumnya tidak mau berkomunikasi kini berubah. Perubahan sikap itu, tampaknya dibutuhkan pengarang cerpen demi menyelamatkan tokoh perempuan, juga tidak lain dalam rangka supaya bagaimana caranya agar perempuan itu jatuh pada pelukan sang pengarang. Perempuan itu kini digambarkan sebagai tokoh yang berpindah menaruh harapan pada Hamsad Rangkuti sang pengarang
                Permohonan yang berulang-ulang pada akhir cerita dari tokoh perempuan itu kepada sang pengarang cerpen juga merupakan penggambaran betapa perempuan itu menggantungkan nasibnya pada tokoh laki-laki yang sedang memotretnya. Namun tokoh Pengarang berusaha menghindari kesan bahwa ia akan melakukannya dengan senang hati, demi menaikan tensi dramatisnya. Tooh-laki-laki yang lain itulah yang tampaknya berteriak menyuruh pengarang melakukanya. Bahkan, tokoh laki-laki (pengarang) masih menginginkan sesuatu yang lebih. Pengarang yang mendapat kesempatan untuk melakukan itu  tidak saja melakukan apa yang diminta sang tokoh perempuan melainkan menawarkan sesuatu yang lebih dari itu.
"Masih adakah bekas darinya di bagian lain tubuhmu yang harus kuhapus dengan bibirku?" bisikku.
                Adegan ini mengakhiri puncak keteganagn cerita, karena dengan ini pembaca bisa menarik kesimpulan bahwa tokoh perempuan yang diangkat dalam kisah ini tidak sampai meneruskan usahanya membunuh diri. Di sini tokoh perempuan dijadikan sebagai instrumen kisah yang memungkinkan pengarang bisa menciptakan suspens yang memukai pembaca. Namun jika kita amati, bahwa cerpen ini tampaknya mewacanakan sesuatu yang memposisikan perempuan pada tempat yang kurang menguntungkan. Pembaca hampir pasti akan menarik kesimpulan bahwa tokoh perempuan telah dikhianati seseorang yang sengaja disembunyikan pengarang. Di sinilah kita bisa mengatakan bahwa cerpen ini berbias gender dan kontra terhadap perjuangan kelompok yang sudah berteriak keras-keras tentang prinsip-prinsip feminism.
                Secara subyektif saya, terus terang sangat suka!! Beliau telah mewakili fikiran saya yang saya anggap benar, terlepas dari kritik karyanya yang tentu saja sangat berbeda,  bahwa saya merasa ada sesuatu yang tidak dapat hilang sampai sekarang, walaupun sebelumnya, saya tidak tahu persis apa yang tidak dapat hilang itu. Contoh analogi : ketika seorang sosok Dyah Permata Megawati Soekarnoputri pun akan tetap patuh dan hormat pada suaminya ketika ia pulang. meski ia adalah orang nomor satu di negeri ini pada tahun 2001. Sekalipun Ibu Tien Soeharto mengkampanyekan UUD tentang larangan PNS tidak boleh menikah lagi, semata-mata ialah ketakutan Ibu Tien supaya Presiden Soeharto tidak menikah lagi. Tentu Soeharto akan berfikir berulang-ulang jika mempunyai niat menikah lagi dengan resiko melepaskan jabatanya. Ketergantungan Ibu tien terhadap sosok Laki-laki masih bisa tergambar. Bahkan Kartini sang pencetus Feminism Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, namun tetap saja beliau menjadi istri seorang bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang sudah memiliki 3 orang istri. Pertanyaanya adalah, kenapa ia masih saja melakoni peranya sebagai wanita jawa dan istri yang berbakti pada suaminya? Kita hanya harus memilih antara memperjuangkan Femisim dengan mengamputasi sebagian nilai-nilai falsafah Jawa, atau meniadakanya sama sekali. Barulah kebebasan kaum perempuan bisa terlaksana. Hanya saja menurut saya tidak ada wanita yang benar-benar tidak membutuhkan sama sekali sosok laki-laki. Mungkin budaya luar berbeda. Tapi sadarilah ini lah kodrat kaum wanita pribumi kita.

Saturday, 28 December 2013

ANALISIS FIKSI CERPEN LAMPOR

ANALISIS FIKSI
CERPEN LAMPOR
Karya : Joni Ariadinata




BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

           Cerpen merupakan suatu karya tulis sastra yang memuat nilai-nilai kehidupan, dengan menghadirkan satu konflik. meskipun konflik yang disajikan tidak sangat kompleks seperti layaknya karya sastra novel atau novelet, dan tokoh yang tidak begitu banyak. cerpen Cerpen biasanya akan selesai sekali duduk ketika membacanya. Dan biasanya memusatkan hanya pada satu konflik, Satu kejadian, waktu yang singkat, serta tokoh yang terbatas. Meski begitu, cerpen dapat langsung difahami oleh pembacanya.
Tulisan ini dibuat guna memenuhi tugas Analisis Fiksi yang diberikan oleh Dosen Pengampu Nanang Arisona. M.sn. S.sn dan dibebankan kepada Mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Fakultas Seni Pertunjukan, Jurusan Teater sebagai bahan penilaian Mid Semester dengan Tugas; mendeskripsikan Resepsi Pembaca dan Unsur Intrinsik pada Cerpen (Cerpen Bebas).
Unsur intrinsik adalah Unsur-unsur apa saja yang membangun pada sebuah karya sastra, seperti Tema, Plot, Analisis karakter, Setting, Sudut pandang, serta Style atau bagaimana Gaya sang penulis dalam menuliskan karyanya, serta aliran yang di anutnya. Kesemuanya itu, merupakan unsur-unsur yang membangun sebuah karya sastra.
Dalam suatu cerpen tentu mengandung unsur instrinsik, Maka otomatis tulisan ini akan mengarah pada pembahasan unsur-unsur intrinsik pada sebuah karya cerpen yang akan dibahas. Dalam hal ini, ialah sebuah karya sastra Cerpen yang berjudul “Lampor” Karya  Joni Ariadinata.
B.     RUMUSAN MASALAH

Berpedoman pada latar belakang diatas, maka rumusan masalahnya ialah :
1.      Apa saja unsur instrinsik dalam cerpen berjudul “LAMPOR” karya ?
2.      Aliran sastra apa yang menjadi dasar Ideologi Penulisnya?
C.     TUJUAN

Berdasarkan rumusan masalah maka tujuan dari makalah ini adalah:

1.      Mengetahui unsur instrinsik dalam cerpen berjudul “LAMPOR” karya Joni Ariadinata.
2.      Dapat menentukan sebuah aliran apa yang ada dalam sebuah karya sastra. Khususnya
         pada Cerpen Lampor karya Joni Ariadinata.
3.      Sebagai Pengguguran tugas matakuliah Analisis Fiksi dan  Bahan Penilaian UTS


BAB II
PEMBAHASAN

A.    CERPEN DAN UNSUR-UNSUR INSTRINSIK PEMBANGUNNYA

TEMA
Tema adalah dasar cerita, atau premis awal , yang menjadi masalah utama dalam cerita. Tema merupakan jantung pada sebuah cerita. Ada tema yang diceritakan secara eksplisit disebutkan biasanya lebih verbal dan langsung dimengerti tanpa perlu pengkajian yang rumit. Biasanya terdapat pada tengah cerita sebagian pesan sudah dapat dibaca. dan ada pula yang dinyatakan secara implisit ”Tersembunyi” tetapi dipahami meskipun tidak mudah, perlu pemahaman pada setiap kalimat dan dialog nya pada setiap kalimat dan dialognya. Biasanya pesan yang disampaikan akan terbaca ketika diakhir cerita atau ketika konflik berakhir. Dalam hal ini adalah ‘katarsis’ pembersihan jiwa. Ada pelajaran yang berharga yang dapat di ambil.
          Dalam cerpen “LAMPOR” dapat diketahui Tema yang menjadi dasar cerita, adalah bertemakan kritik sosial. menceritakan sepenggal kehidupan yang ada dan terjadi pada realitas ditengah-tengah masyarakat kita. Hiruk Pikuk kemiskinan, satu keluarga yang hidup di pemukiman kumuh, yaitu Abah Marsum, Sumiah dan ketiga anaknya Tito, Rohanah dan Rois. kemudian kemiskinan yang membentuk karakter mereka masing-masing, atau juga sebaliknya karakter yang membuat mereka hidup miskin. dimana Abah Marsum sebagai seorang pengangguran, istri dan anak-anaknya tidak menghargainya lagi.
 Dalam teks tersebut dapat mewakili tema apa yang ada didalam cerita bahwa penulis ingin menunjukkan sebuah kenyataan yang sebenar-benarnya dialami oleh keluarga dalam cerita tersebut.  
PENOKOHAN
Tokoh adalah bentuk rekaan Objek pengarang yang mengalami peristiwa pada cerita dalam karya sastra. Biasanya, tokoh dihadirkan dalam wujud manusia, mempunyai nama, atau hanya sekedar profesinya, atau jabatan sosialnya. namun dapat pula berwujud binatang,tumbuhan atau benda yang dibuat seolah-olah hidup.
Pada setiap tokoh memiliki perwatakan atau karakter. Karakter adalah suatu penyajian sifat atau watak, kebiasaan tokoh dan penciptaan citra tokoh sebagai penggambaran kondisi Psikologis,Fisiologis, dan Sosiologis tokoh masing-masing.
Tokoh dan Perwatakan dalam cerpen “LAMPOR” adalah sebagai berikut:
1.            Abah Marsum sebagai Bapak.
           Watak dari Abah Marsum bersikap santai, enggan memikirkan beban yang dialami keluarganya yang setiap hari kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia pemalas
2.            Sumiah sebagai Emak.
           Watak dari Sumiah adalah pemarah, berani terhadap suaminya, fikiranya kalut, memiliki emosional yang tinggi, dikarenakan suaminya seorang pengangguran.
3.            Tito sebagai Anak pertama.
           Watak dari Tito adalah anak yang mau bekerja menjadi pemulung demi membantu memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Dia adalah anak yang berbakti kepada orangtuanya.
4.            Rohanah sebagai Anak kedua.
           Watak dari Rohanah adalah anak yang tidak menghormati orang tuanya, pendidikan yang kurang menjadikanya sebagai anak yang tidak tahu sopan santun. tingkahnya yang menyebalkan,suka menipu.
5.      Rois sebagai Anak ketiga.
           Ia adalah anak bungsu. Ia anak yang suka maling/ seorang pencuri kecil, ia juga seorang pencopet di jalanan.
PLOT

Alur merupakan rangkaian cerita peristiwa yang disusun berdasarkan tiga hal yaitu:
·         Kronologi ; peristiwa kejadian berdasarkan waktu.
·         Kausalitas ; sebab dan akibat terjadinya peristiwa.
·         Tema ; gagasan utama yang mendasari cerita.
Adapun struktur alur yang digunakan pada Lampor, Joni Ariadinata ini bisa dikatakan alur maju, yang dimaksud alur maju adalah rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu kejadian.
LATAR
Latar adalah deskripsi yang menerangkan ruang dan waktu, serta suasana kejadian. Latar meliputi penggambaran letak geografis, pemandangan, perlengkapan, ruang, musim, lingkungan sosial, moral, intelektual, agama, dan lain-lain.
Ada beberapa fungsi latar, antara lain
·         memberikan informasi tempat dan kondisi suasana kejadian.
·         mewakili kondisi lingkungan sosial tokoh.
·         membangun suasana lebih hidup



Latar dalam cerpen LAMPOR adalah sebagai berikut:
1.      Perkampungan dekat Sungai Comberan yang kumuh.
2.       Rumah ukuran empat kali dua meter, beratap setengah genting dengan aksesori pelengkap tujuh buah plastik bekas taplak penambal bocor ditambah potongan-potongan eternit, dinding murni gedek.
3.      Sungai Comber tempat mandi, mencuci, dan buang air.
 Seperti yang dikutip pada deskripsi: “Rumah tukang akik. Empat kali dua meter, beratap setengah genting dengan aksesori pelengkap tujuh buah plastik bekas taplak penambal bocor ditambah potongan-potongan eternit, dinding murni gedek. Di dalamnya lima manusia bersenyawa dengan barang-barang rongsokan dan harta keseharian. Jika malam, tiga anak tidur beralaskan tikar: Tito, Rohanah, dan Rois. Sedang  diatas dipan kayu lapuk bergencetan Abah Marsum dan Sumiah.”
STYLE / GAYA BAHASA YANG DIGUNAKAN     
          Dalam cerpen “LAMPOR” dapat ditangkap gaya bahasa atau majas yang dipakai oleh penulis guna mengkritik seseorang atau sesuatu dengan cara yang sangat berani dengan kata-kata / dialog kasarnya sebagai gaya bahasa ini digunakan sebagai media penghinaan, dan mengekspresikan kekesalan terhadap sesuatu. Pesan yang dapat ditangkap ialah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya dalam cerita ini Penulis ingin menceritakan sebuah kenyataan dari sebuah keluarga yang selalu kekurangan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan juga menceritakan sebuah kehidupan yang sangat memperihatinkan. Karya ini merupakan sindiran bagi kita bahwa masih ada saudara kita yang masih dalam keadaan kekurangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
“ketika anak-anak dekil mandi, perempuan mencuci piring dan daki, pantat-pantat separuh telanjang mengeluarkan kotoran. Secara serempak dan tetap: pagi pukul delapan, sore pukul lima. Kotoran dengan bakteri kental lewat campuran air mengalir, adalah hal teramat sederhana buat jadi pikiran. Teramat sepele buat jadi pertimbangan.”
          Perhatikan cuplikan kalimat diatas, penulis ingin mengungkapkan sebuah keadaan yang sangat memperihatinkan. Semua hal yang dilakukan bersamaan dalam kalimat tersebut membuat kita tahu dan sadar akan kehidupan mereka yang tidak layak. Mungkin inilah amanat yang ingin disampaikan Penulis dalam sebuah karyanya. Dengan gaya bahasanya yang Radikal ia ungkapkan pada cerpen nya.
SUDUT PANDANG
Sudut pandang adalah bagaimana cara pengarang menyajikan karya nya. Bagaimana cara memposisikan tokoh yang di reka pengarang terhadap cerita. Misal :
a.         Sudut pandang orang pertama, sudut pandang ini biasanya menggunakan kata ganti aku atau saya. Dalam hal ini pengarang seakan-akan terlibat dalam cerita dan bertindak sebagai tokoh cerita. (Baca Cerpen: Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu” karya Hamsad Rangkuti) 
b.         Sudut pandang orang ketiga, sudut pandang ini biasanya menggunakan kata ganti orang ketiga seperti dia, ia atau nama orang yang dijadikan sebagai titik berat cerita. 
   Sudut pandang dalam cerpen “Lampor” adalah sudut pandang orang ketiga, seperti yang terdapat pada cerpen Lampor:
Tito mencangking karung dan pengait ”dinas luar”, ketika Rohanah bangun untuk antre mengambil air bersih. Setengah jam kemudian Abah Marsum menggeliat saat mendengar suara kaleng berderak serta bantingan pintu, kasar dan keras. Batuk-batuk sebentar, kemudian meludahkan dahak kental. Sepagi ini Sumiah mengumpat, berjalan gusar dengan dada naik-turun, “Bajingan tengik! Anak keparat. Pagi-pagi sudah mencuri...”
AMANAT
Amanat yaitu ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya.  Pesan yang terkandung kurang lebih ialah penulis ingin menceritakan sebuah kenyataan dari sebuah keluarga yang selalu kekurangan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan juga menceritakan sebuah kehidupan yang sangat memperihatinkan, mempengaruhi kondisi sosial mereka.  Hal ini dapat membuat kita sadar bahwa diluar sana ada banyak fenomena kemiskinan yang seperti tergambar pada cerpen tersebut.
“ketika anak-anak dekil mandi, perempuan mencuci piring dan daki, pantat-pantat separuh telanjang mengeluarkan kotoran. Secara serempak dan tetap: pagi pukul delapan, sore pukul lima. Kotoran dengan bakteri kental lewat campuran air mengalir, adalah hal teramat sederhana buat jadi pikiran. Teramat sepele buat jadi pertimbangan.”
B.     ALIRAN SASTRA DALAM CERITA PENDEK.
Setiap aliran sastra selalu ditemui ciri khas masing-masing pada setiap pengarangnya. Ciri khas itu digambarkan pada bentuk dan isi. Bentuk berhubungan dengan cara menyampaikannya. Adapun Isi, adalah Ideologi yang disampaikan pengarang.
      Aliran Pengarang Pada cerpen Lampor ialah Realism pada setiap kalimat deskripsi maupun dialog pada cerpen lampor merupakan penggambaran kenyataan yang ada sekarang ini, dan masih terjadi, ditambah lagi setiap detail deskripsi suasana dan tempat semakin mengarah pada hal-hal yang memang apa adanya. 
  
















BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Untuk menentukan sebuah unsur intrinsik sebuah karya sastra dan aliran sastra, sebuah pemahaman terhadap cerita dan pencermatan dalam menganalisis cerita menjadi sebuah keharusan.
Unsur-unsur instrinsik dalam sebuah karya sastra cerpen lampor ialah: tema, penokohan dan , Plot, setting, sudut pandang, Pesan. Semuanya perlu pengkajian secara cermat satu-per satu.
Makalah ini dibuat sebagai tugas dari mata kuliah Analisis Fiksi dengan harapan dapat menjadi sumbangan pemikiran dan juga dapat tersampaikan tujuan terutama bagi penulis.










DAFTAR TINJAUAN